Review Film: A Little Thing Called Love

          Sebenernya basi banget ya kalo posting review film yang rilisnya udah 9 tahunan yang lalu. Tapiii berhubung aku browsing kemarin dan ga nemu satupun review mengenai film ini secara detail dan pastinya berbahasa Indonesia, jadiii aku putuskan buat post review film yang aku tonton pertama kalinya pas masih SMP! Hahaha, cekidot, guys!! 


Tentang Film

Judul: A Little Thing Called Love/Crazy Little Thing Called Love/First Love
Judul Versi Thailand: Sing Lek Lek Tee Riak Wa Ruk
Durasi: 118 Menit (1 jam 58 menit) 
Awal Rilis: August 12, 2010 (Thailand)
Sutradara: Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn, Wasin Pokpong
Musik: Wan Thanakrit
Soundtrack: A Little Thing Called Love
Skenario: Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn, Wasin Pokpong
Pemain: Baifern Pimchanok Leuvisatpaibol, Mario Maurer, Khachamach Promsaka Na Skolnakorn, Acharanat Ariyaritwikol, dll.


Sinopsis

          Kisah berawal dari seorang siswi sekolah menengah bernama Nam (diperankan oleh Baifern Pimchanok Leuvisatpaibol) yang jatuh cinta kepada kakak kelasnya, Shone (diperankan oleh Mario Maurer). Namun Nam hanya berani mengagumi dan mencintai Shone secara diam-diam, karena ia merasa kurang percaya diri dengan rupa wajahnya yang tidak cantik, berkulit gelap dan berpenampilan culun , sedangkan Shone adalah sosok lelaki sempurna yang tampan, berbakat, baik hati dan tentu saja populer.
          Ia menyembunyikan perasaannya itu bahkan tidak pernah menceritakannya pada ketiga sahabatnya. Hingga suatu hari, teman-temannya memergoki Nam yang sedang memperhatikan Shone, setelah mereka berempat membahas tentang buku berjudul "9 Resep Cinta Untuk Pelajar". Akhirnya setelah tahu bahwa Nam menyukai Shone, ketiga sahabatnya pun membantu Nam agar cintanya berbalas. Nam pun melakukan langkah-langkah yang ada di buku metode cinta tersebut, meskipun terdengar sedikit konyol. Nam memberikan Shone cokelat, memberinya plaster luka ketika Shone terluka, berusaha mengikuti klub tarian klasik meskipun pada akhirnya diusir, bersedia ketika diminta mengikuti klub drama--sebuah klub yang dianggap sebagai klub terburuk--dan berperan sebagai Cinderella, hingga secara terpaksa menerima permintaan guru kelasnya untuk menjadi mayoret drumband, menggantikan mayoret asli yang patah tulang mendadak. Namun setelah semua yang dilakukan itu, Shone juga tak kunjung menyatakan cinta padanya. 
          Hingga pada akhirnya, di hari kenaikan kelas akhir, Nam memberanikan diri untuk menyatakan cintanya yang sudah ia pendam selama tiga tahun kepada Shone. Akan tetapi, keberanian Nam itu sia-sia dan Nam hanya bisa menelan kekecewaan karena ternyata seminggu sebelumnya Shone telah berpacaran dengan teman sekelasnya sendiri, Pin (diperankan oleh Khachamach Promsaka Na Skolnakorn).
Pertanyaannya, akankah perjuangan Nam akhirnya berbuah?


Ulasan

Amanat: Cinta Adalah Motivasi
          Dikisahkan dalam film asal Thailand ini, seorang siswi menengah bernama Nam yang jatuh cinta kepada kakak kelasnya, Shone. Nam adalah gadis yang sebut saja culun, jelek, berkulit gelap, tidak pintar, namun ia adalah anak yang penurut dan suka membantu orang tua. Sedangkan Shone adalah sosok sempurna yang tampan, baik hati, pintar, berbakat dan tentu saja populer.
          Perbedaan kontras itulah yang membuat Nam merasa tidak sepadan dan minder, sehingga harus mengagumi Shone secara diam-diam. Namun Nam memiliki tiga sahabat yang saling peduli dan mendukung satu sama lain, termasuk membantu Nam agar cintanya berbalas. 
Dan voilla! 'Berkat' rasa cintanya itulah, Nam berubah menjadi sosok yang cantik, aktif dalam klub sekolah, menjadi mayoret dengan waktu latihan sangat singkat, hingga bisa meraih peringkat satu setelah sebelumnya ada di peringkat 30! Bahkan Nam dewasa kelak adalah seorang fashion designer yang populer di Thailand.
          Dari sini penonton bisa melihat, bahwa Nam menjadikan rasa cintanya sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berkembang. Itu tentu jauh lebih baik daripada hanya mencintai tapi tidak bergerak maju untuk kehidupan yang lebih baik. Sudahlah cintanya tak dapat, masa depan pun tak jelas. Rugi dong?

Genre Komedi-romantis yang 'Aman'
          Kebanyakan film atau drama bergenre komedi-romantis selalu dibumbui dengan adegan dewasa, minimal ciuman bibir. Namun, dalam film ini tidak ada adegan berbahaya pun sampai akhir, hanya ada satu adegan mencium pipi namun itu hanya sekilas, tidak sampai dua detik. Tentu saja saya, sebagai pencari film 'aman' merasa sangat senang dengan hal ini. Dan ini akan menjadi poin plus utama di mata saya. Apalagi pertama nonton film ini waktu saya masih berusia jauh di bawah 17 tahun.
          Ya, film ini memang berlatar anak sekolahan dalam banyak adegannya, sehingga tidak memungkinkan seorang pelajar melakukan adegan dewasa. Namun ada beberapa potong adegan yang menceritakan kehidupan dewasa mereka, dan tetap tidak ada satu adegan pun yang berbahaya.

Kedua Pemeran Utama yang Cocok Meong
          Jujur saja, saya adalah tipe penonton yang bakal nonton film tersebut "kalo pemainnya cakep-cakep", maksudnya antara tokoh utama pria dan wanitanya sama-sama good looking sehingga akan cocok menjadi pasangan. Tidak terkecuali film ini. Pertama kali liat cast nya, saya langsung googling Mario Maurer dan Pimchanok. Setelah itu auto timbul semangat buat segera nonton. Hehe

Klise: Dari Jelek Jadi Cantik
          Sudah banyak sekali film-film yang menceritakan mengenai tokoh utama perempuan yang memiliki rupa yang jelek, berkulit gelap dan culun yang kemudian berubah, baik secara alami atau buatan, menjadi cantik dan berkulit putih--termasuk A Little Thing Called Love ini. Nam yang pada awalnya jelek dan culun, berkat sahabat-sahabatnya--disebutkan dalam film bahwa mereka menggunakan dan mengoleskan kamin (pemutih kulit) di sekujur tubuh Nam--berhasil mengubahnya menjadi cantik dan berkulit putih.
          Hal ini tentu sangat klise dan seolah masih menganut patokan masyarakat mengenai "cantik adalah berkulit putih", sehingga dikhawatirkan penonton yang memiliki kulit gelap akan terobsesi menjadi "cantik" menurut versi tersebut.

Beberapa Keanehan yang Bikin Bingung! 
          Di awal disebutkan oleh teman2 Nam bahwa Shone adalah murid baru di kelas 10. Tapi kemudian saat sang guru memanggilnya, disebutkan bahwa ia kelas 4/7. Di akhir film, Nam menyebutkan bahwa Shone adalah siswa kelas M.4. Terlebih saya memang tidak mengerti sistem jenjang pendidikan di negara Thailand. Mungkin ada reader yang lebih paham? :v
          Selain itu, dalam adegan hampir akhir, dimana Nam akan menyatakan cintanya pada Shone, di situ digambarkan seperti hari kelulusan--terlihat dari kemeja seragam yg penuh coretan--yang saya yakin adalah kelulusan Shone dan angkatannya. Namun, yang mengherankan adalah, mengapa seragam murid-murid satu sekolah juga turut penuh coretan--termasuk kemeja Nam, yang notabene jenjangnya masih junior? Padahal hanya satu angkatan saja yang lulus. 

Terlalu Banyak Permasalahan yang Harus Dituntaskan. 
          Sehingga dengan durasi film satu jam lebih ini kesannya seperti terburu-buru. Sepertinya tim skenario ingin membuat cerita dengan ending sehappy-happynya dan itu berlaku untuk semua tokoh, sehingga seperti 'menumpuk' pada akhirnya dan menyebabkan semakin bertambahnya tokoh seiring waktu demi penuntasan cerita. Misalnya, kisah Faye yang cintanya pada Shone tak terbalas, pada akhirnya dekat dengan Top; kisah cinta Guru In yang akhirnya berlabuh pada guru olahraga yang baru; teman-teman Nam yang sukses dalam karirnya ketika dewasa; Nam yang akhirnya menyusul ayahnya ke Amerika dan menjadi desainer terkenal di sana. Dengan akhir yang begitu membahagiakan itulah justru menjadi kekurangan dalam film ini, karena terkesan maksa. Kalau memang ingin semua berakhir bahagia tanpa ada kesan terburu-buru, lebih baik A Little Thing Called Love ini dijadikan drama saja, lebih dari satu episode dengan durasi yang sedikit lebih panjang. 

Kesimpulan

          Sebenarnya film ini adalah film Thailand pertama yang pernah saya tonton, yang setelahnya menjadikan saya tertarik untuk menonton film Thailand yang lain. Daya tarik film ini yang paling utama bagi saya adalah kedua pemain utama yang sangat cocok (bagi saya) , bahkan keduanya bertemu kembali di film lain berjudul Suddenly It's Magic meskipun tidak menjadi pasangan. Namanya juga masih anak SMP saat menonton pertama kali, sehingga selalu menempatkan film ini di urutan teratas film favorit saya. Tapi seiring bertambahnya usia, begitu pula dengan semakin bertambahnya referensi film yang saya tonton, film ini menjadi kalah pamor di hati saya. Karena ternyata, ide yang diangkat dalam film ini terlalu klise.
          Meskipun ada beberapa hal anti-mainstream yang terkandung, seperti: memberi mangga adalah hal yang romantis; kado valentine berupa bunga mawar yang lengkap dengan tangkai beserta akarnya; dan buku kumpulan foto-foto Nam yang diabadikan oleh Shone. Namun secara keseluruhan tema yang diangkat adalah sangat biasa dan terlalu pasaran. Karena bagi saya, ide cerita adalah hal yang paling penting dalam sebuah karya, karena hal itu bisa menjadi pembeda dari karya-karya yang lain sekaligus bisa menjadi daya tarik. 
          Jadi, izinkanlah saya sebagai reviewer film amatiran ini memberikan rating 6.5/10 untuk film yang sempat jadi yang utama di hati saya selama beberapa tahun ini. Hehehe saya rasa sekian. 

Komentar